Sejarah

Gagasan untuk jaringan Diaspora Indonesia lahir sejak 1950-an, ketika orang Belanda India pertama menginjakkan kaki di tanah Belanda.

Keinginan untuk 'tempo Doeloe' terwujud dalam organisasi budaya, kegiatan, dan acara. Sebagai contoh, beberapa Pasar Malam telah diselenggarakan di berbagai kota di Belanda, yang tertua adalah Tong Tong Fair, yang telah diselenggarakan 54 kali tahun ini.

Selama bertahun-tahun, ketika semakin banyak orang Indonesia berimigrasi ke Belanda, ikatan emosional dengan Indonesia menjadi lebih kuat. Gagasan dan daya tarik untuk Diaspora Network Indonesia tumbuh, sehingga lebih banyak kerja sama dapat dilakukan dengan Indonesia. Dimungkinkan juga untuk berkontribusi pada pengembangan negara asal yang jauh dari negara asal.

Pada tahun 2009, di bawah inisiatif Organisasi Internasional untuk Migrasi, sebuah lokakarya tentang Diaspora Indonesia di Belanda diselenggarakan bekerja sama dengan Penelitian Emic. Di samping itu juga dipelajari tentang kaitan dan perkembangan yang bisa dilakukan di Indonesia. Meskipun lokakarya pertama, tidak ada hasil nyata yang dicapai, kegiatan ini dianggap sebagai inisiatif pertama untuk pembentukan Jaringan Diaspora Indonesia di Belanda.

Kongres Internasional Diaspora Indonesia (CID), yang diselenggarakan di Los Angeles dari 6 hingga 8 Juli 2012, telah memberikan dorongan ekstra kepada Jaringan Diaspora Indonesia di Belanda. Sejak itu ia menjadi bagian dari Jaringan Diaspora Global Indonesia.

Bersama ini lahirlah jaringan Diaspora Indonesia NL.